Analis Ekonomi : UU Bailout Belum Bisa Menyelamatkan Ekonomi AS

•Oktober 8, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Meski UU Bailout telah disetujui DPR AS dan Presiden AS George.W. Bush, namun sejumlah analis ekonom masih meragukan efektifitas dari UU Bailout tersebut akan mampu mengentaskan krisis finansial dalam jangka panjang.
Menurut mereka, bayang-bayang resesi ekonomi masih menghantui AS. Bahkan sejumlah analis mengatakan AS tengah memasuki detik-detik kehancuran ekonominya.

Simon Jhonson, analis senior pada IMF mengatakan, dampak krisis finansial yang menimpa AS dan Eropa saat ini sangat mungkin dapat memukul perekonomian global untuk terpuruk kembali dalam resesi ekonomi dunia seperti tahun 1929.

Menurut Jhonson, UU Bailout yang telah disetujui DPR AS dan ditandatangani Bush belum mampu sepenuhnya menjamin pengentasan krisis keuangan, “langkah itu hanya prosedur darurat sehingga tidak mampu mencegah penurunan kepercayaan pasar,” tukas Jhonson seperti dikutip Aljazeera.

Jhonson yang meninggalkan IMF sejak tahun lalu dan memilih bekerja sebagai guru besar pada Institute Petterson For Economic International di Washington, mengatakan, ekonomi dunia akan terkena dampak dari pelambatan pertumbuhan ekonomi AS, termasuk kemungkinan resesi ekonomi.

Analis ekonomi peraih penghargaan nobel ekonomi, Jhosef Stiple, juga mengatakan hal yang sama.Dia berpendapat, paket penyelamatan itu belum mampu sepenuhnya untuk memulihkan stabilitas ekonomi AS. Dia mengumpamakan paket penyelamatan itu seperti transfusi darah kepada seseorang yang masih terus mengalami pendarahan yang parah. Transfusi darah itu akan sia-sia jika lukanya tidak ikut disembuhkan.

Defisit Anggaran

Akibat besarnya dana talangan yang harus dikeluarkan pemerintah AS, defisit anggaran belanja negara AS meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Komisi Anggaran Konggres AS mengatakan langkah penyelamatann dipkirakan akan semakin menekan defisit anggaran belanja negara AS naik menjadi sekitar 407 milyar USD pada tahun ini padahal pada tahun 2007 defisit anggaran hanya mencapai 161 milyar USD. Komisi Anggaran Kongres juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi AS akan dibawah 1 persen sampai pertengahan tahun 2009. Menurut ketua Komisi Anggaran, Peter Archad, defisit anggaran yang mencapai 3 persen dari pendapatan domestik akibat besarnya pengeluaran pemerintah AS untuk memberi dana talangan sementara jumlah pemasukan semakin berkurang.

Dalam peristiwa lainnya, Presiden Ekuador, Rafael Correa hari Ahad (5/10) menilai krisis yang terjadi di Amerika menjadi bukti kegagalan sistem kapitalis dan periode Kapitalisme telah berakhir.

Kantor Berita Fars mengutip Prensa Latina Kuba menulis, Rafael Correa mengatakan, sistem kapitalis terbukti gagal dan ekonomi Amerika sebagai pasar terbesar dunia tengah dililit krisis.

Correa menambahkan, apa yang terjadi di Amerika tidak terbatas pada krisis keuangan, namun bukti kebuntuan sebuah sistem yang dibangun tanpa dicermati secara serius.
Menurut Correa, solusi krisis sistem keuangan Amerika tidak akan bisa selesai dengan menyuntikkan dana 700 miliar dolar kepada bank-bank yang telah bangkrut, namun yang lebih penting lagi adalah Amerika harus melakukan perubahan fundamental.

Sumber : www.arrahmah.com [Selasa 07 Okt, 06:41 AM]

AS : Taliban Bisa Dikalahkan ?

•Oktober 8, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Komandan Militer Inggris dan Duta Besarnya di Afghanistan tengah diliputi rasa cemas dan berpikir perang melawan Taliban tidak akan mereka menangkan.  Sekretaris pertahanan AS, Robert Gates, telah meminta Washington untuk mengirim lebih banyak pasukan ke Afghanistan.
Brigadir Mark Carleton Smith berkata bahwa peperangan tidak mungkin dimenangkan dan rencana menyusutkan konflik dengan strategi apapun dengan angkatan perang Afghan merupakan sesuatu yang sia-sia.  Duta Besar Inggris, Sherard Cowper Coles melihat “kediktatoran” merupakan solusi terbaik.  Dengan mengirimkan gelombang pasukan yang banyak hanya menciptakan lebih banyak target untuk Taliban.  Komentar-komentar mereka telah terdengar oleh pejabat-pejabat atas di Kabul, Kai Eide, dengan merespon, kesuksesan masih mungkin diraih dengan melakukan dialog dan usaha-usaha politis.

Keamanan, bagaimanapun telah kian memburuk di dalam negeri sejak dua tahun silam.  “Di sana pasti tidak ada alasan untuk orang yang telah diliputi harapan akan kalah, mempunyai peluang berhasil pada akhirnya,” ujar Gates dalam perjalanannya menuju Eropa, seperti yang dilansir The independent.

Solusi terbaik menurut Gates adalah melakukan perundingan damai dengan Taliban dan menempatkan pejuang-pejuang Taliban dalam pemerintahan Afghanistan.

Namun para mujahidin Taliban tidak akan menjual keimanan mereka dengan kekuasaan, sudah berkali-kali mereka menolak perundingan damai, kecuali jika semua pasukan kafir keluar dari Afghanistan dan seluruh negeri yang dijajah.

Sementara itu, juru bicara Taliban, Qari Muhammad Yusuf, menyangkal sebuah berita yang melaporkan bahwa negosiasi telah dilangsungkan antara Taliban dan Pemerintah Afghan di Saudi Arabia.

Sumber : www.arrahmah.com [Rabu 08 Okt, 08:58 AM]

Camp Mujahid Belia Taliban

•Oktober 8, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Sebuah camp Taliban di Waziristan Selatan tengah menyiapkan para Mujahid-Mujahid muda yang benar-benar Muda. Mereka baru berumur tujuh tahun dan sudah diperkenalkan dalam dunia Jihad di Pakistan dan Afghanistan.
Dari rekaman yang diambil di Spinkai Ragzai, Waziristan Utara pada bulan Agustus memperlihatkan pelatihan Mujahid muda mulai umur tujuh tahun sampai 14 tahunan. Wilayah pelatihan itu termasuk dalam kekuasaan Baitullah Mehsud. Sedang camp itu dikabarkan dipimpin oleh Qari Husain.

Gambar menunjukkan para bocah itu sedang mengaji Al Quran dan seorang Mujahid dewasa yang diperkirakan sebagai Trainer. Dan sebuah papan tulis terlihat bertuliskan grafiti dalam bahasa Inggris “bunuh mata-mata”. Dengan ikat kepala putih bertuliskan kalimat tauhid “Laa ilaha illallah” mereka mulai mengaji Al Quran dilanjutkan dengan pelajaran yang diberikan trainer. Bahkan mereka sudah dipersiapkan ilmunya semenjak dini untuk melaksana
kan operasi Istisyahadah sebagai bagian dari mengahancurkan Kafir.

Sumber : www.arrahmah.com [Rabu 08 Okt, 07:10 AM]

Video Terbaru Al-Qaeda : Bebaskan ‘Jihad’ Kashmir

•Oktober 8, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Anggota Al-Qaeda Amerika, Adam Gadahn, dalam sebuah video yang disebarkan di internet pada Sabtu lalu, mengatakan para pemimpin boneka Pakistan yang baru tengah dalam perang melawan Islam militant.  Ia juga mengatakan untuk membebaskan “jihad” di Kashmir dari cengkraman para pemimpin Pakistan.
“Angkatan perang Pakistan ……….. dan penyebar kebohongan profesional, mereka membuat kami percaya bahwa Pakistan kini memasuki lembaran baru (setelah Presiden terdahulu, Pervez Musharraf yang bersekutu dengan AS melepaskan jabatannya),” ujar Gadahn dalam video yang disebarkan di website Islam.

“Ini bukan yang diinginkan Pemimpin Pakistan.  Ini yang diinginkan para pemimpin Amerika untuk memelihara kebijakan politiknya, merintangi Jihad melawan tentara salib di Afghanistan… dan memastikan Pakistan sebagai Negara yang patuh, dan terbebas dari syariah Islam,” lanjut Gadahn.

“Peperangan mereka selalu menjadi perang Amerika, bukan Pakistan.  Dan perang melawan mujahidin adalah apa yang dibawa Pakistan untuk wilayah perbatasan,” ujar Gadahn yang juga dikenal sebagai Azzam-nya Amerika.

Gadahn juga mengatakan, kemenangan di Kashmir telah tertunda selama bertahun-tahun.  “Bebaskan jihad di sana dari campur tangan, ridho Allah adalah langkah awal ke arah kemenangan atas kaum Hindu yang ingin menguasai tanah kaum muslim.” Lanjutnya.

Gadahn, dilahirkan dengan nama Adam Pearlman, lahir di California, bertobat menjadi seorang muslim.  Didakwa sebagai orang Amerika pertama yang berkhianat sejak masa Perang Dunia II.  Saat ini Ia dipercaya berada di Pakistan.

Gadahn termasuk dalam daftar orang yang diburu FBI dengan harga mencapai USD 1 juta untuk informasi tentang keberadaannya.  

Video kali ini sekaligus membantah pemberitaan di beberapa media yang mengatkan bahwa Gadahn telah dibunuh oleh tentara kafir AS.

Sejak Oktober 2004, Gadahn telah Nampak dalam beberapa video Al-Qaeda.  Dalam beberapa video, ia menghimbau para mujahidin untuk menyambut kedatangan George Bush dengan ledakan-ledakan bom bila mengunjungi Timur Tengah. Ia juga merobek-robek paspor Amerikanya dan mengatakan “Aku tidak membutuhkan ini untuk bepergian kemanapun.”

Sumber : www.arrahmah.com [Selasa 07 Okt, 02:34 PM]

Aksi Bom Syahid Kembali Terjadi di Pakistan

•Oktober 8, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Sebuah aksi istisyhadah menewaskan 15 orang dan melukai seorang politikus oposisi Pakistan pada Senin (6/10) dalam serangan terakhir untuk menekankan ancaman oleh Taliban dan al Qaeda.

Mujahidin meledakkan dirinya dalam kerumunan orang di rumah Rashid Akbar Nowani, seorang anggota parlemen minoritas Syiah dari partai mantan perdana menteri Nawaz Sharif, di kota Bhakkar di provinsi Punjab, kata polisi.

Pemerintah baru Pakistan sedang memerangi gelombang serangan para mujahidin di daerah suku yang berbatasan dengan Afghanistan, dan juga di bawah tekanan intensif AS untuk menindak keras mereka (mujahidin-red).

“Itu adalah serangan bunuh diri, kepala pembomnya telah ditemukan,” pejabat senior polisi Khadim Hussain mengatakan.

“Pembom itu berjalan ke rumah anggota parlemen tersebut dan meledakkan dirinya di tengah kerumunan pekerja partai, pendukung dan keluarga,” kata Hussain.

Kepala polisi setempat Iqbal Qureshi mengatakan korban tewas telah meningkat menjadi 15 orang.

Beberapa pejabat rumah sakit mengatakan sedikitnya 60 orang terluka, termasuk Nowani, yang menderita luka kaki.

“Kondisinya tidak serius, ia baik,” kata saudara laki-laki politikus itu, Saeed Akbar.

Empat hari sebelumnya juga terjadi ledakan di luar rumah anggota senior koalisi yang berkuasa di Pakistan di sebuah kota di baratlaut Pakistan, menewaskan empat orang.

Politikus tersebut mengkampanyekan anti-Taliban dan pemimpin Partai Nasional Awami Asfandyar Wali Khan, nyaris selamat dari serangan ketika pengawalnya melompati pembom tersebut.

Mujahidin juga menembakkan roket pada Minggu (5/10) di rumah keluarga menteri besar Provinsi North West Frntier, Amir Haider Khan Hoti, tapi tidak menimbulkan korban.

Serangan itu memperbesar tekanan pada Presiden Asif Ali Zardari, duda dari mantan perdana menteri Benazir Bhutto yang terbunuh, untuk memerangi para mujahidin atas pesanan negara kafir penjajah AS.

Pakistan masih terhuyung-huyung dari serangan di hotel Marriott di Islamabad pada 20 September yang menewaskan 60 orang. Beberapa pejabat mengatakan itu (serangan) merupakan serangan balas dendam atas operasi militer di wilayah suku di Barat laut Pakistan.

Hubungan dengan sekutu juga dalam krisis di tengah serangkaian serangan AS dan serangan rudal dengan sasaran para mujahidin di wilayah Pakistan, yang ternyata menewaskan warga sipil.

Pemerintah Pakistan Senin (6/10) membantah laporan surat kabar AS bahwa Zardari telah mengakui serangan rudal tidak populer besar-besaran itu merupakan bagian dari perjanjian dengan AS.

“Kami memiliki saling-pengertian, dalam hal bahwa kami menentang musuh bersama,” kata Zardari seperti dikutip oleh Wall Street Journal ketika ditanya mengenai serangan itu.

“Ia (Zardari) pernah mengatakan bahwa serangan itu dilakukan denga pengetahuan atau izin kami,” Menteri Informasi Sherry Rehman mengatakan pada televisi pemerintah ketika ditanya soal wawancara itu.

“Kami telah mengatakan bahwa kapan saja ada beberapa data intelijen pada pasukan koalisi (pimpinan-AS), mereka akan membaginya dengan kami,” katanya.

Ia secara khusus juga membantah bahwa Pakistan telah memberi izin bagi serangan darat oleh pasukan khusus AS pada 3 September yang mana 15 warga Pakistan tewas.

Sumber : www.arrahmah.com [Selasa 07 Okt, 06:14 AM]

Pakistan Sering Ngawur Dalam Melaporkan Berita Kematian Anggota Al Qaeda

•Oktober 8, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Seorang pemimpin Al Qaeda dikabarkan terbunuh pada 2 Oktober, dalam sebuah serangan di Waziristan Utara, menurut laporan yang belum dikonfirmasikan. Tanpa suatu konfirmasi dari Al Qaeda atau Taliban laporan seperti itu langsung dipublikasikan oleh pemerintah Pakistan sebagai keberhasilan misi.
“Amerika melakukan dua penyerangan pada dua lokasi berbeda di Waziristan Utara pada 2 Oktober. Kedua serangan dilakukan di didaerah kesukuan di Waziristan  Utara  dalam rangka mengejar keluarga Haqqani. Serangan di Mohammed Khel dilaporkan menewaskan 23 orang termasuk 16 anggota Al Qaeda dari Arab”, kata sebuah laporan resmi Pakistan beberapa hari lalu.

Sumber berita itu tidak menyebutkan siapa saja yang terbunuh. Sementara serangan itu dilakukan pada daerah yang disinyalir dihuni Jalaludin Haqqani, seorang legenda pejuang Mujahidin dan anaknya Siraj, keluarga Haqqani sudah mendapatkan serangan sebelumnya pada 9 September di sebuah masjid.

Laporan Salah

Tahun ini laporan tentang kematian anggota senior Al Qaeda dan pemimpin Taliban yang dikeluarkan pemerintah Pakistan selalu keliru.

Sejak Januari 2008, sembilan anggota senior Al Qaeda termasuk Ayman al Zawahiri dan Baitullah Mehsud dilaporkan terbunuh dalam serangan didalam Pakistan. Dari sembilan yang dikabarkan terbunuh itu ternyata hanya tiga yang telah dikonfirmasi pihak Al Qaeda tentang Syahidnya anggota mereka.

Senior Al Qaeda yang dikabarkan terbunuh adalah :

Ayman al Zawahiri, Baitullah Mehsud, Faqir Mohammed, Mustafa Abu Yazid, Adam Gadahn, Qari Hussain. Mereka yang dikabarkan terbunuh itu akhirnya muncul dalam video-video yang dirilis As Sahab atau melakukan konferensi pers dengan media yang menandakan laporan itu “ngawur”.

Sedang Al Qaeda mengkonfismasi Syahidnya tiga anggota mereka, yaitu :

Abu Laith al Libi, beliau syahid dalam serangan di Waziristan Utara pada akhir Januari.

Abu Sulayman Jazairi, beliau syahid pada 14 Mei dalam sebuah serangan di kota Damadola Pakistan daerah kesukuan Bajaur.

Abu Khabab al  Misri, beliau syahid dalam seranga udara di desa Zeralita di wilayah Azam Warsak, Waziristan Selatan pada 28 Juli.

Sumber : www.arrahmah.com [Selasa 07 Okt, 05:59 AM]

Mengapa Mereka Benci RUU Pornografi ?

•September 25, 2008 • 1 Komentar

Berita MetroTV petang, 18 September 2008, mengangkat diskusi ringan soal rencana pengesahan RUU Pornografi. Disana tampil anggota dewan yang anti RUU Pornografi dari Fraksi PDIP dan yang mendukung RUU dari Fraksi PAN. Untuk kesekian kalinya kita membuka halaman debat kusir soal RUU Pornografi (dulu RUU Anti Pornografi Pornoaksi). Tahun 2006 lalu Ummat Islam menggelar “Aksi Sejuta Ummat” di Monas menuntut RUU APP segera disahkan, tetapi realisasinya alot amat. Sebagian kalangan sudah gemas melihat perkembangan media-media pornografi, sementra yang lainnya oke-oke aja.

Untuk melihat perdebatan baru ini, kita perlu lebih jujur memahami konstruksi sikap orang-orang yang anti RUU Pornografi. Istilahnya, “Jangan ada dusta di antara kita.” Hal itu dimaksudkan agar kita tidak keletihan menghadapi alasan-alasan mereka yang terus diperbaharui itu. Ketika satu alasan dibantah, segera muncul alasan berikutnya, termasuk yang paling naif sekalipun.

Begitu terus berlangsung, setiap ada jawaban selalu ada alasan baru. (Kata anak-anak, capek deh!). Dengan memahami desain sikap mereka, akan membantu kita lebih konsisten dengan masalah ini. Semoga Allah Ta’ala memudahkan perjuangan Ummat. Amin.

Disini saya akan ungkap alasan-alasan kalangan anti RUU Pornografi. Sebagai tambahan, pihak-pihak yang menentang RUU itu tidak jauh dari komunitas PDIP, PDS, gerakan SEPILIS, seniman liberal, LSM anti Syariat Islam, Mbah Dur, komunitas gereja, media massa sekuler, dan semisalnya.

Cukup UU dan KUHP
Alasan paling standar dari kalangan anti RUU Pornografi adalah soal UU dan KUHP. Kata mereka, selama ini sudah ada UU Perlindungan Anak, ada KUHP, dll. Sudah banyak produk UU yang bisa digunakan untuk menjerat media-media pornografi dan model-model yang menjadi pelaku porno aksi. “Sudah pake aja UU yang ada. Tak usah bikin UU baru. Yang sudah aja manfaatkan sebaik mungkin, itu sudah cukup!” kata mereka.

Cara mematahkan alasan di atas sangat mudah, yaitu: “Kalau memang semua UU itu efektif bisa mencegah penyebaran media pornografi, mengapa sampai saat ini masih banyak produk-produk pornografi beredar luas? Itu artinya UU-nya mandul, sebab tidak mengatur masalah ini secara spesifik.”

Mereka akan balik membantah, “Ya, itu artinya penegakan hukumnya yang lemah, bukan UU-nya yang salah! Jangan salahkan UU-nya, tapi salahnya penegakan hukumnya yang lemah.”

Kita pun bisa menjawab balik, yaitu:
“Pertama, Anda katakan penegakan hukum lemah. Berarti disini ada pihak-pihak yang tidak menunaikan amanah hukum dengan baik. Pihak itu bisa kepolisian, kejaksaan, atau kehakiman. Mereka bisa disebut telah melanggar hukum karena tidak melaksanakan amanah penegakan hukum dengan baik. Kalau begitu apakah Anda telah menuduh kepolisian, kejaksaan, dan kehakiman telah melanggar hukum karena tidak melaksanakan UU/KUHP dengan benar? Tolong Anda sebutkan bukti-bukti pelanggaran hukum mereka, karena tidak menegakkan hukum secara baik! Kalau ada bukti-buktinya, hal itu bisa menjadi modal melakukan class action untuk menuntut tanggung-jawab mereka.”

“Kedua, UU atau KUHP yang ada saat ini hanya memberikan aturan yang sifatnya general (umum), sehingga tidak efektif lagi untuk menghadapi realitas perkembangan media pornografi, teknologi yang dipakai di dalamnya, modus penyebaran, pelaku, motiv bisnis dan sebagainya. Realitasnya sudah sangat komplek, tetapi ketentuan-ketentuan hukum yang digunakan sudah ketinggalan jaman. Bayangkan, untuk fenomena pornografi yang telah sedemikian rumit hanya cukup dihadapi dengan beberapa gelintir pasal saja. Itu menunjukkan bahwa bangsa kita tidak memiliki komitmen moral. Soal moral hanya omong kosong doang!”

Kalau mereka terus beralasan dengan lemahnya penegakan hukum, mereka harus tunjukkan bukti-bukti kongkretnya kelemahan itu, jangan hanya teori saja. Tunjukkan bagaimana kasusnya, apa buktinya, siapa pelaku “kelemahan penegakan hukum” itu! Sekali lagi, jangan omdo atau omkos!

Masyarakat Bali dan Papua

Ini alasan lain, soal Bali. “Bagaimana dengan di Bali? Bukankah disana banyak turis-turis manca negara yang berpakaian minim? Kalau mereka dituduh pornoaksi, berarti pariwisata di Bali bisa hancur, dong? Wong selama ini mereka dapat makan dari pakaian-pakaian minim itu,” kata mereka.

Sebenarnya, hal ini sudah dijawab oleh para anggota dewan yang ikut merumuskan RUU Pornografi. Katanya, dalam implementasi UU Pornografi di lapangan akan disesuaikan dengan kebijakan spesifik setiap daerah. UU Pornografi dianggap sebagai rujukan umum, lalu implementasinya disesuaikan kondisi masyarakat setempat. Tradisi moralitas masyarakat setempat menjadi pertimbangan dalam implementasi UU tersebut di lapangan. Artinya, nanti diperlukan Perda (Peraturan Daerah) yang akan merinci penerapan UU Pornografi di lapangan.

Kemudian, mereka berasalan dengan masyarakat Papua yang masih memakai koteka. “Wah, gimana kalau pelaku porno aksi ditangkap? Nanti laki-laki Papua akan ditangkapi karena mereka memakai koteka? Ini sama saja dengan merusak Bhineka Tunggal Ika, merongrong keutuhan bangsa, merusak kekayaan budaya bangsa.”

Sama saja, seperti kondisi Bali di atas. Hal ini menyangkut situasi spesifik yang umum berlaku di suatu tempat. Di Bali banyak bule berpakaian minim dengan alasan pariwisata. Sementara di Papua, alasannya sikap berbudaya masyarakat masih cenderung primitif. Termasuk di daerah pedalaman suku tertentu, adat berpakaiannya juga bersifat minimalis. Kenyataan-kenyataan seperti ini dikembalikan kepada kebijakan Pemda setempat untuk menetapkan Perda yang lebih relevan dengan daerah masing-masing. “Gitu aja kok repot,” kata Si Mbah Dur.

UU Pornografi ini sangat penting sebagai benteng moral bagi mayoritas masyarakat perkotaan yang umumnya Muslim. Merekalah yang selama ini menjadi sasaran rawan penyebaran pornografi. Jumlah mereka mayoritas, sehingga jangan karena kepentingan minoritas (di Bali atau Papua), lalu kita korbankan moralitas masyarakat mayoritas itu. Jika seperti itu, lalu dimana keadilan? Dimana proporsionalitas? Dimana demokrasi yang mereka agung-agungkan? Bukankah disana ada PDIP? Apa arti huruf “D” pada nama PDIP?

Mengekang Kebebasan Seniman

Selanjutnya, alasan kebebasan ekspresi. “RUU Pornografi jelas memasung kebebasan para seniman. Mereka tidak bisa berekspresi secara bebas, padahal seni itu kebebasan. Seni akan kehilangan ruh-nya kalau dikekang dengan aturan-aturan moral. Seni dan moral adalah dua hal berbeda, jangan dicampur-adukkan. RUU macam itu pasti akan menghambat kreasi dan ekspresi para seniman!” kata mereka.

Mungkin, orang-orang itu termasuk komunitas yang mengagamakan seni. Seni dianggap sebagai agama, yaitu standar nilai yang paling tinggi. Sedangkan kita adalah Ummat beragama, kita tidak memandang seni di atas segala-galanya. Kita Muslim (atau ummat beragama tertentu), sementara mereka menyembah seni. Dan alhamdulillah, sejak awal negara ini bukan negara ateis tetapi negara beragama. Lihatlah sila pertama Pancasila, “Ketuhanan yang Maha Esa!”

Para seniman yang mengagung-agungkan seni itu, mereka boleh memuaskan kehendaknya jika dasar negara kita berbunyi, “Kesenian yang maha kuasa!” Nah, kalau dasarnya seperti itu, silakan mereka berpuas-puas diri dengan kebebasan seni tanpa kendali. Dan ironinya, orang-orang sengak ini sering menuduh aktivis Islam sebagai “anti Pancasila”. Siapa yang ngomong, siapa yang bohong?

Sebenarnya, kalau orang-orang beragama seni ini ingin kebebasan mutlak dalam berkesenian. Hal itu silakan saja, asal untuk diri mereka sendiri, secara tertutup, tidak disebarkan di tengah masyarakat. Misalnya, Ayu Utami, Rieke Dyah, Dian Sastro, dll. mau memuaskan ekspresi seninya, silakan di komunitas sendiri, tidak perlu disebar ke masyarakat luas. Kalau masuk domain masyarakat luas, jelas kami akan sangat keberatan. Kami masyarakat beragama, bukan para penyembah seni. Seni hanyalah sub kehidupan, bukan inti kehidupan.

Lagi pula, disini tampak ketidak-jujuran para seniman sengak ini. Misalnya, mereka ingin diberi kebebasan menggambar tubuh wanita telanjang, tanpa sehelai benang. Kalau ditanya, mengapa harus obyek seperti itu? Jawabnya, “Ini adalah ekspresi kebebasan seni. Seni itu bebas, suka-suka kita mau menggambar apa saja. Moral tidak boleh bicara disini.” Seolah, demi seni mereka bebas berekspresi, tak perlu dikekang oleh aturan apapun. Tetapi, alasan itu sebenarnya dicari-cari saja. Intinya, otak mereka ngeres, suka panorama-panorama seksual, lalu diungkapkan dengan teori macam-macam. Intinya sex fantasy, tetapi teorinya rumit-rumit.

Coba kita tanya, “Kalau memang kebebasan, mengapa tidak menggambar hewan telanjang? Bisa jadi disana juga ada keindahan?” Mereka akan menjawab, “Oh tidak bisa, ini selera manusia, obyeknya juga manusia.” Lalu kita tanyakan lagi, “Kalau alasannya manusia, mengapa harus selalu kaum wanita yang menjadi onyek?” Mereka akan menjawab, “Tidak, pada diri kaum wanita ada potensi kekuatan seni yang hebat. Kaum laki-laki tidak memilikinya.” Dan terakhir kita kunci akal mereka, “Kalau memang harus wanita, mengapa tidak menggambar nenek-nenek tua, anak-anak perempuan balita atau bayi-bayi kecil?” Bahkan seandainya mereka setuju dengan menggambar nenek-nenek, balita, atau bayi perempuan, kita masih punya satu pertanyaan lagi, “Mengapa obyek yang dipakai selalu orang lain? Mengapa Anda tidak pernah memakai keluarga Anda sendiri sebagai obyek?”

Pertanyaan di atas bukan maksudnya menyuruh mereka menggambar obyek-obyek itu. Tidak sama sekali. Ia hanya sekedar test kejujuran untuk mengejar motivasi asli para seniman itu. Ternyata disana ada sex fantasy, tidak lebih. Soal teori kebebasan, keindahan, ekspresi, dll. itu cumeng (cuma tameng!). Kalau ada perempuan-perempuan ikut ngeyel mendukung kebebasan seni itu, biasanya mereka termasuk perempuan yang “sudah tinggal ampas” saja.

Alasan Anggota Dewan PDIP

Menarik mencermati alasan dua orang anggota dewan PDIP. Satu orang disampaikan dalam acara “Debat TVOne”, satu lagi dalam dialog ringan di MetroTV petang yang telah disebut di bagian awal.

Alasan pertama, jika UU Pornografi diberlakukan tidak otomatis akan mengerem penyimpangan moral pelaku-pelaku pornografi. Menurut sebuah data, di Swedia yang tidak ada larangan pornografi terbukti angka kasus pemerkosaan kecil. Sementara di Timur Tengah yang memberi restriksi ketat antara hubungan laki-laki perempuan, disana justru marak pemerkosaan. Musdah Mulia (muftinya kaum homoseks) mendukung data itu sambil mengatakan, restriksi tidak otomatis menekan angka pelanggaran seksual. Kurang lebih seperti itu.

Jawaban yang bisa diberikan: “Kalau ada UU Pornografi saja tidak mampu mengerem, apalagi kalau tidak ada? Lagi pula, kan UU itu belum disahkan, belum diundangkan, mengapa sudah mengadili sedemikian rupa? Mengapa tidak diberi kesempatan dulu dilaksanakan, misalnya selama 15 tahun? Jika hasilnya sukses, UU itu dipertahankan; jika tidak sukses, ia diperbaiki. Mudah kan? Gitu aja kok repot!” Lagi-lagi harus meminjam istilah Si Mbah.

Soal data perbedaan realitas sosial di Swedia dan Timur Tengah. Ya, data tersebut harus dikemukakan secara jelas, jangan hanya mengatakan, “Kami memiliki data anu!” Ungkapkanlah, biar kita sama-sama bisa melihat. Kalau perlu posting di internet, biar bisa dilihat secara keroyokan.

Begini Bu Dewan, kalau mengungkap data jangan setengah-setengah, tetapi harus menyeluruh. Misalnya, perbedaan angka pemerkosaan di Swedia dan Arab Saudi. Dua negara ini secara garis besar sudah berbeda. Arab Saudi itu luas, mungkin bisa mencapai 10 kali luas Swedia. Penduduknya juga jauh lebih banyak, sekitar 25 juta jiwa. Jelas, dari dua data berbeda, akan menghasilkan angka berbeda pula.

Bisa jadi di Swedia tidak ada pemerkosaan. Tetapi jangan gegabah memahaminya! Disana pemerkosaan tidak terjadi, sebab memang kebebasan seks diperbolehkan, bahkan pelacuran, juga mungkin homoseks. Membandingkan dengan Arab Saudi, jauh sekali. Jangankan pelacuran, perzinahan, apalagi homoseks, hijab untuk memisahkan komunitas wanita dan laki-laki diterapkan disana. Jadi tidak adil membandingkan negara liberal yang menghalalkan kebebasan seks, dengan yang menerapkan Syariat Islam. Swedia mungkin tidak butuh pemerkosaan, sebab hukum negara sudah membolehkan seks apa saja.

Kalau di Saudi, biasanya pelaku pemerkosaan itu terjadi karena tiga sebab: Satu, pihak pelaku telah sangat terpengaruh oleh budaya Barat, saat mereka berlibur ke negara Barat, membaca majalah, mengakses internet, atau melihat TV-TV di Barat melalui parabola. Dua, adanya wanita-wanita asing di tengah keluarga-keluarga Saudi, yaitu dari kalangan TKW. Namanya manusia, suatu saat bisa khilaf ketika misalnya melihat ada “rok tersingkap”. Oleh karena itu, biar tidak merusak negara lain, sebaiknya program TKW distop saja. PDIP bisa diminta bantuan untuk menghentikan program itu. Tiga, karena agresitifitas korban wanitanya. Banyak orang mengatakan, bahwa korban-korban itu kerap berpenampilan menggoda di depan majikan atau anak-anaknya.

Kemudian alasan satu lagi dari wakil PDIP, yaitu: “Dalam UU Pornografi terdapat aturan tentang keterlibatan masyarakat untuk mencegah pornografi, hal itu akan melahirkan polisi-polisi swasta.” Mungkin yang dimaksud polisi swasta disini adalah organisasi Islam seperti FPI.

Namanya UU, ia dibuat untuk mengatur, biar masyarakat tidak anarkhis. Perbuatan anarkhis muncul justru karena tidak ada UU-nya. Kalau sudah ada UU, tindakan anarkhis tidak diperlukan lagi. Tetapi dalam implementasi UU Pornografi, bahkan UU apapun, keterlibatan masyarakat dibutuhkan untuk menunjang penegakan UU itu. Tanpa keterlibatan masyarakat, sulit UU akan berjalan baik. Hanya batas keterlibatan itu bukan untuk menangkap, merampas, memborgol orang, memukuli, memenjarakan, dan seterusnya. Cakupanya paling sebatas melaporkan pelaku, mengumpulkan bukti-bukti, atau menasehati pelaku agar tidak melakukan ini itu. Semua itu sebatas wewenang rakyat biasa, bukan mengambil tugas polisi.

Anti Hukum Islami

Sebelum UU Pornografi diundangkan, Fraksi PDIP dan PDS tidak ikut terlibat sidang untuk mengesahkannya. Dan banyak lagi yang menentang UU tersebut dari kekuatan-kekuatan di luar parlemen, termasuk kalangan gereja.

Kalau mau jujur, sebenarnya orang-orang itu tidak anti dengan gerakan pemberantasan pornografi. Di kalangan gereja sendiri, pornografi menjadi masalah anak muda yang memusingkan juga. Di rumah-rumah mereka sendiri, pasti anak-anaknya akan dilarang mengakses situs-situs porno yang berisi pose-pose wanita telanjang, gambar alat seksual, adegan senggama, dst. Pasti dan pasti mereka akan merasa jijik dengan semua itu. Kecuali kalau moralnya sudah sama-sama rusaknya.

Tetapi mengapa mereka seperti benci sekali dengan UU Pornografi, padahal kalau disahkan pasti akan menguntungkan keluarga mereka juga?

Alasannya sederhana, UU Pornografi dianggap identik dengan “Perda-perda Syariah”, yaitu aturan-aturan yang bernuansa Hukum Islam. Itu sebenarnya intinya. Mereka ketakutan, kalau UU Pornografi diloloskan, nanti kalangan aktivis Islam akan menuntut yang lain lagi, misalnya pendirian Bank Sentral Syariah, pendirian Mahkamah Hukum Pidana Syariah, penggantian Pancasila dengan Rukun Islam, penggantian UUD 1945 dengan Al Qur’an dan Sunnah, dan ujungnya berdirilah Negara Islam Indonesia (NII). (Sambil mereka bayangkan, atas semua itu para aktivis Islam akan tertawa lebar-lebar…ha ha ha. Seperti dalam film kartun bajak laut).

Mereka anggap UU Pornografi ini sebagai kendaraan yang ujung-ujungnya ialah mendirikan Negara Islam di Indonesia. Mereka semua ketakutan, sebab kalau berdiri Negara Islam, mereka khawatir nanti setiap orang non Muslim akan dipancungi satu per satu; setiap orang wajib shalat lima waktu, mereka akan didampingi polisi yang akan terus memantau gerak-geriknya selama 24 jam, kalau sekali mereka berbuat salah, langsung dihukum berat, seperti dipukul, dipotong tangan, digantung, atau dirajam. Pendek kata, mereka telah terserang horor sangat mengerikan, sebab kebanyakan membaca Nights Mare.

Bagi kalangan kapitalis, penegakan Syariat Islam (apalagi pendirian Negara Islam) lebih mengerikan lagi. Mereka akan berbuat apapun untuk menghalangi semua itu, sebab hal ini menyangkut masa depan eksploitasi ekonomi di Indonesia. Keberadaan Syariat Islam bisa dianggap sebagai barrier (dinding) yang sangat berbahaya. Para kapitalis juga ada di balik gerakan anti RUU Pornografi ini.

Sebenarnya itu alasannya. Maka tidak heran jika kalangan gereja mendukung penuh gerakan anti RUU Pornografi itu. Disini pula kita bisa memahami mengapa Si Mbah Dur sangat emosi dengan RUU tersebut. Padahal setahu saya, pihak-pihak di parlemen itu tidak ada satu pun yang secara bicara tentang Syariat Islam. Rata-rata bicara substansi moral, bukan soal Syariat. Bahkan, kalangan PAN sendiri seperti dikatakan Sutrisno Bachir, lebih suka dengan Islam inklusif bukan Islam pro Syariat Islam. Para pendukung Syariat Islam umumnya ada di luar parlemen, bukan di dalam. Ini yang tidak dipahami oleh orang-orang anti UU Pornografi.

Tapi ya terserah bagaimanapun keinginan mereka. Setuju silakan, tidak juga tidak mengapa. Nanti pada akhirnya, kalau tidak ada kata sepakat, ya harus voting. Mudah-mudahan dalam voting, suara anggota dewan bermoral bisa mengalahkan yang anti moral. Allahumma amin.

Dilema Gerakan Islam

Ada sebuah tulisan menarik di majalah Sabili, beberapa waktu lalu. Ia ditulis oleh Hery Nurdi, Pemred Sabili. Dalam tulisan itu Hery menyorot sebuah kasus menarik di parlemen Turki. Singkat cerita ada seorang anggota parlemen dari PKP Turki yang mengajukan proposal tentang pentingnya kaum wanita Turki diperbolehkan memakai jilbab. Anggota dewan itu wanita dan tidak berjilbab, dalam proposalnya dia tidak memakai dalil-dalil Syariat tetapi mengumpulkan data-data realitas sosial dari berbagai sumber. Meskipun titik-tolaknya moralitas, tetap saja proposal itu ditolak, sebab dituduh berbau Islam.

Kenyataan di atas sangat sering terjadi di Indonesia. Meskipun kita membawa ide-ide moral murni, tanpa embel-embel Syariat Islam, ia bisa dicurigai sebagai bagian dari upaya Islamisasi. Kalau mau jujur, Soeharto dijatuhkan tahun 1998 lalu juga karena tuduhan dia mendukung Islamisasi, dan para mayoritas aktivis Islam mendukung penjatuhan Soeharto tersebut. Dan kini, sekedar untuk meloloskan UU Pornografi saja, susahnya setengah mati.

Gerakan moral untuk kebaikan masyarakat selalu dituduh Islamisasi. Penuduhnya tidak jauh-jauh, yaitu komunitas Islam phobia yang sejak tanggal 18 Agustus 1945 sampai saat ini tidak kenal lelah menentang setiap yang menguntungkan Ummat Islam. Semua ini hanyalah “parade perlawanan” yang dipertahankan dari generasi ke generasi. Wajah dan bentuknya bisa beda, tetapi esensinya sama.

Saya tertarik dengan pemikiran Hery Nurdi. “Tidak memakai label Islam dituduh pro Syariat Islam, berlabel Islam dituduh Islamisasi. Jadi, mengapa tidak sekalian saja terang-terangan membela Islam? Toh, berlabel Islam atau tidak, tetap saja kita dituduh,” begitu kurang lebih logika Hery. Saya kira, ada benarnya juga pemikiran itu. Sudahlah, ke depan kita tidak usah basa-basi lagi. Langsung saja, lugas, tegas, tidak multi tafsir. Sebut saja, “Kami membela Islam! Titik!” Nah, cara demikian kayaknya lebih OK. Daripada terus paranoid, lebih baik sekalian mengaku membela Islam. Percuma “bermain cantik”, kalau akhirnya dicurigai juga. Soal nanti bagaimana hitam-putihnya di parlemen, ya itu dikembalikan ke skill politik masing-masing.

Lagi pula, secara akidah, percayakah Anda bahwa orang-orang Islam phobia itu memiliki hati yang tulus, sifat pemurah, kasih-sayang, empati tinggi, rasa keadilan, dan sebagainya? Siapa yang mengatakan hal itu? Apakah Allah dan Rasul-Nya? Sungguh wajar apa yang mereka lakukan selama ini, wong memang stelan hatinya sudah seperti itu (kecuali yang diberi hidayah oleh Allah). Sampai kapan Anda berharap mereka akan lembut hatinya, pro nilai-nilai Islami? Kalau pro, mereka tentu tidak akan bersikap phobia terhadap Islam. Phobia = anti, iya tho?

Terimakasih Pak Hery, moga idenya bisa ditangkap oleh wakil-wakil gerakan Islam di Parlemen. Walhamdulillah Rabbil ‘alamin. Wallahu a’lam bisshawaab.

Bandung, 20 Ramadhan 1429 H.

Abu Muhammad Waskito.

Sumber : http://abisyakir.wordpress.com

Serangan Bom Hotel Marriot, Balasan Atas Kerjasama Pakistan dengan AS

•September 22, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Serangan bom bunuh diri melulululantakkan Hotel Marriot di ibukota Pakistan, Islamabad, menewaskan 60 orang dan 200 orang cedera. Para analis mengatakan, serangan bom itu merupakan pesan dari kelompok pro-Taliban bahwa Pakistan harus membayar mahal kerjasamanya dengan AS dalam “perang melawan teror” serta operasi-operasi militernya ke pedalaman untuk memberangus kelompok-kelompok Taliban.

Talat Masood, seorang pensiunan jenderal Pakistan berpendapat, serangan bom di Hotel Marriot bisa jadi reaksi atas serangan-serangan misil pasukan AS di pedalaman Pakistan yang menyebabkan kaum perempuan dan anak-anak menjadi korban. “Ini adalah pesan yang sangat jelas para militan pada pemerintah Pakistan, jika Pakistan bisa ditekan oleh Amerika maka mereka (militan) juga bisa melakukan tekanan pada pemerintah Pakistan,” kata Masood.

Analis masalah-masalah keamanan dari Islamabad, Hamid Mir menuding pimpinan Taliban di Pakistan Baitullah Mehsud sebagai dalang dari serangan bom di Hotel Marriot. “Para militan yang loyal pada Mehsud kerap menjadikan pasukan Pakistan dan warga sipil sebagai target serangan mereka, terutama setelah operasi militer Pakistan ke wilayah Bajur,” kata Mir.

Operasi militer Pakistan ke wilayah beberapa waktu lalu, menyebabkan warga sipil termasuk anak-anak dan perempuan menjadi korban dan memicu kebencian mereka pada pemerintah Pakistan. “Masyarakat Pakistan di pedalaman itu sangat marah dengan pemerintah Pakistan. Mereka juga berpikir Pakistan cuma diam melihat aksi-aksi pengeboman yang menewaskan warga sipil di Pakistan,” tukas Mir.

Masood dan Mir juga menyakini, serangan bom ke Hotel Marriot juga sebagai reaksi atas dukungan Pakistan terhadap “perang melawan teror” yang dikampanyekan AS.  “Kelompok-kelompok militan itu memilih untuk melakukan serangan, kecuali pemerintah Pakistan bersikap untuk tidak lagi mengikuti kebijakan-kebijakan AS,” ujar Masood.

Menurutnya, rakyat Pakistan merasa bahwa “perang melawan teror” yang dikampanyekan AS bukanlah perang mereka. Apalagi belakangan, pasukan AS yang berbasis di Afghanistan malah melakukan sejumlah serangan bom ke wilayah Pakistan di perbatasan.
 
Serangan Bom Terburuk

Ledakan yang terjadi pada Sabtu (20/9) berasal dari sebuah truk yang berisi bahan peledak. Ledakan itu menyebabkan bagian depan hotel hancur dan pipa-pipa gas pecah sehingga menimbulkan kebakaran besar. Para tamu hotel yang berada di lantai atas hotel, banyak yang terjun ke bawah untuk menyelamatkan diri dari jilatan api, sehingga banyak diantara mereka yang tewas.

Menurut Menteri Dalam Negeri Pakistan, ada dua warga negara asing yang tewas. Sementara keterangan pihak rumah sakit menyebutkan ada lima warga negara asing yang luka-luka, termasuk seorang diplomat asal Denmark. Duta Besar Saudi menyatakan lima warga negaranya hilang dan belum diketahui nasibnya.

Ledakan bom yang terjadi di Hotel Marriot merupakan serangan bom terburuk yang pernah terjadi di ibukota Pakistan. Melihat dampak ledakan, diduga bahan peledak yang digunakan besarnya lebih dari satu ton dan aparat kepolisian mengkhawatirkan Hotel Marriot akan roboh akibat ledakan dan kebakaran besar itu.

Sejumlah saksi mata mengungkapkan kengerian yang terjadi di lokasi ledakan. Staff dan tamu hotel berlarian untuk menghindarkan diri dari pecahan kaca. Mayat-mayat yang berlumuran darah bertebaran diantara reruntuhan-reruntuhan bangunan hotel. Hotel Marriot adalah hotel termewah di Pakistan yang menjadi pilihan tempat menginap warga negara asing dan kalangan elit Pakistan.

Sumber : eramuslim.com [Minggu, 21 Sep 2008]

Perancis Akan Putuskan Nasib Tentaranya di Afghanistan

•September 22, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Para anggota parlemen Perancis akan memutuskan Senin (22/9)  apakah akan mempertahankan tentara Perancis di Afghanistan setelah 10 tentara mereka tewas di negara itu, dan memunculkan pertanyaan mengenai kehadiran Perancis di Afghanistan yang kian keras.

Dua majelis parlemen, yang didominasi oleh partai Presiden Nicolas Sarkozy, diperkirakan akan mendukung  kesatuan beranggotakan 2.600 tentara itu untuk tetap berada di Afghanistan. Kesatuan tentara Perancis adalah salah satu yang terbesar dalam misi di Afghanistan–pimpinan Pakta Pertahanan Atlantik Utara.

Namun pembicaraan heboh terjadi setelah surat kabar Globe and Mail Kanada mengutip sebuah laporan “rahasia” NATO pada akhir pekan yang mengatakan pejuang Taliban yang menyerang tentara Perancis pada 18 Agustus bersenjata lebih baik ketimbang musuh mereka.

NATO dan staf jenderal Perancis membantah bahwa laporan seperti itu ada. Serangan yang meningkat di bagian timur Kabul adalah serangan darat paling mematikan terhadap tentara internasional sejak mereka dikirim ke Afghanistan pada 2001 untuk mengusir rezim garis keras Taliban
.
Menurut Globe and Mail, ke 30 prajurit terjun payung itu kehabisan peluru dan tidak memiliki peralatan komunikasi yang lebih baik, sehingga memaksa mereka menghentikan pertempuran setelah 90 menit.

Tentara itu hanya memiliki satu radio, yang dengan cepat terhenti, dan menyebabkan mereka tidak dapat meminta dukungan udara, sementara pejuang Taliban menggunakan peluru pembakar yang mampu menembakkan lubang di kendaraan lapis baja,

Namun seorang jurubicara militer Perancis membantah laporan itu, dengan mengatakan tidak ada kekurangan peluru dan bahwa kontak radio hanya hilang sebentar setelah seorang tentara yang membawa peralatan tewas.

“Kami senantiasa dapat membalas serangan Taliban. Pasokan telah diterbangkan oleh helikopter pada saat pertempuran yang berakhir sembilan jam,” kata jurubicara kepala staf angkatan bersenjata Kapten Christophe Prazuck.

“Saya dalam posisi untuk mengatakan bahwa tidak ada laporan seperti itu, dari NATO ataupun dari ISAF (Pasukan Bantuan Keamanan Internasional pimpinan-NATO) di Afghanistan,” kata jurubicara aliansi James Appathurai di Brussels.

PM Francois Fillon akan berpidato pada parlemen untuk memunculkan kasus keterlibatan berlanjut, dan mempertahankan keputusan awal tahun ini untuk mengirim 700 tentara tambahan ke Afghanistan. Fillon akan memguraikan langkah keamanan tambahan bagi tentara Perancis, menarik pelajaran dari serangan tersebut yang mana 10 tentara tewas dan 21 tentara yang lain luka-luka.

“Tak dapat dibayangkan bahwa Perancis, salah satu anggota Dewan Keamanan PBB, kekuatan kelima dunia, akan merenung untuk mundur,” ujar Menteri Pertahanan Herve Morin, pekan lalu.

Satu jajak pendapat yang dipublikasikan setelah serangan bulan lalu menunjukkan 55 persen dari rakyat Perancis mendukung penarikan (tentara) dari Afghanistan. Sejumlah pengkritik menyebut keterlibatan Perancis di Afghanistan sebagai pertanda yang mengkhawatirkan dari persekutuan Perancis dengan kebijakan AS di bawah Sarkozy, yang dianggap pro-Amerika dibanding pendulunya Jacques Chirac.

Keprihatinan meningkat akibat situasi tidak stabil di Pakistan yang berdekatan (dengan Afghanistan), tempat serangan bom bunuh diri di sebuah hotel di Islamabad  Sabtu (20/9) lalu dan menewaskan hampir 60 orang.

Sekitar 70.000 tentara internasional — 40.000 dari mereka di bawah komando NATO — sedang membantu Afghanistan memerangi Taliban yang terusir dari Kabul dalam invasi pimpinan-AS setelah serangan 11 September 2001 di Amerika. Sementara sisa tentara lain–yang belum lama ini melakukan serangan melintasi perbatasan–terpisah di bawah komando-AS. Serangan itu telah memicu protes kemarahan dari pemerintah Pakistan.

Sumber : www.arrahmah.com [Senin 22 Sep, 11:59 AM]

The New of Taliban

•September 22, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

KABUL (Arrahmah.com) – Pejabat-pejabat dari beberapa area menyebarkan surat kepada pejabat lokal, website-website dan beberapa piranti propaganda lainnya, mengatakan, “Taliban baru kini telah muncul di Afghanistan”.
“Ini bukanlah Taliban dari waktu Emirat.  Ini merupakan satu generasi terbaru,” ujar Waheed Modja, ajudan kementrian di bawah Taliban Islamic Emirat yang berkuasa di Afghanistan pada tahun 1996-2001.

“Mereka lebih di didik, dan mereka tidka menghukum orang-orang yang memiliki CD dan kaset,” lanjutnya.

Kini, Taliban memiliki satu tingkat lebih baik dari organisasi-organisasi normal.

Taliban pernah berkuasa di Afghanistan sejak 1996 sampai 2001, namun Negara penjajah AS datang dan menggulingkan kekuasaan sejak peristiwa 911.

Sejak itulah Taliban memulai perjuangannya melakukan perang gerilya melawan tentara-tentara kafir yang didukung oleh pemerintahan Hamid Karzai.

Laporan terbaru oleh Senlis Souncil mengatakan Taliban telah tumbuh dan berkembang, kehadiran Taliban lebih dari separuh wilayah Afghanistan.

Kecerdasan

Taliban baru juga tumbuh secara teknologi, Taliban memiliki perangkat-perangkat berteknologi tinggi dan mesin-mesin online tercanggih.

Kini, Taliban pun melakukan pergerakan di dunia maya 24 jam penuh.  Melakukan propaganda-propaganda dahsyat, menyebarkan berita atas peristiwa yang terjadi lebih cepat dari media militer asing dan pemerintahan Afghanistan. 

“Kami mengakui tidak memenangkan peperangan informasi, dan kami akan membalikkan keadaan tersebut,” ujar Brigadir Jenderal Richard Blanchette, juru bicara tentara NATO.

Media Taliban menjelaskan secara detail kecelakaan-kecelakaan yang terjadi terhadap warga sipil yang ditimbulkan oleh tentara kafir AS dan NATO.

Dengan cepat peristiwa-peristiwa tersebut disiarkan, membuat militer kafir tidak mampu berkutik, dan mereka akan membuat alibi beberapa hari setelahnya.

Bulan lalu, lebih dari 90 warga sipil Afghanistan tewas dalam serangan yang dilakukan tentara kafir AS, kebanyakan dari mereka adalah anak-anak dan perempuan.

“Taliban baru memiliki keinginan mengusir keluar angkatan perang asing dari Afghanistan dan negeri-negeri Muslim lainnya,” ujar modja.

Sumber : www.arrahmah.com [Senin 22 Sep, 11:25 AM]